16 November 2013

cinta yang tak harus bersama


Cemburu pada ia yang bahkan tak pernah menjadi milik kita.

Kalimat itulah yang akhir-akhir ini menggelayut manis di rongga pikiranku.
Memikirkan Indra memang tak akan ada hentinya membuatku bimbang dan sekaligus merasa bodoh, amat sangat bodoh.
Ini harus bisa menjadi hari terakhirku merasakan cemburu padanya, hari terakhir merasakan cinta pada lelaki yang salah. Salah waktu dan salah status. 
Hah! Atau jangan-jangan akulah yang salah? Sudahlah.

Hari ini aku harus tampil cantik, secantik mungkin untuk membuatnya menyesal karena telah memperlakukanku demikian buruknya.
Setelah menyapukan bedak di wajahku yang berbentuk oval ini, aku mulai membentuk alisku dengan pensil alis yang sejak kubeli, nampaknya ini baru kali kedua kugunakan. 
Eyeshadow dengan perpaduan warna coklat dan kuning keemasan sebagai riasan mata, kutambah dengan penggunaan eyeliner serapi mungkin agar mempertegas mataku yang terkadang nampak sayu, dan kuakhiri dengan penggunaan mascara. 
Yap, mata inilah kelak yang akan membuatnya hanyut dalam rasa sesal. 
Ah ya, lipstik merah maroon harus kupulaskan sesempurna mungkin di bibirku yang padat ini. Lipstik yang kelak akan kujadikan pertanda di bibirmu bahwa bagaimanapun, aku pernah singgah di bagian kecil tubuhmu.


**
“maaf, aku terlambat.”

“tak apa, waktuku akan selalu berharga jika kuhabiskan untuk menanti bidadari sepertimu, dan ya Tuhan, bagaimana bisa kamu tampil secantik ini?”

Aku mengambil posisi duduk di seberangnya, tersenyum tipis dan desir bahagia perlahan mulai merambati hatiku. BERHASIL, batinku.

“udah pesan makan Ndra?” tanyaku

“udah, sudah kupesankan juga untukmu, grilled snow fish dengan saus terpisah dan extra salad? minumnya tetap green tea latte kan?”

dasar Indra, pecinta romantis paling pengecut di dunia. Ia memilih restoran favorit kita yang memiliki interior cantik yang mampu membangkitkan aura romantis bagi tiap pengunjung, terutama sepasang kekasih. restoran dengan sajian steaknya yang khas. dan yang kuingat pasti, green tea lattenya yang super enak.
 
“yaa, thanks. Kamu selalu tahu kegemaranku.” 

“ada acara apa? Tumben kamu tampak jauh lebih cantik malam ini?”

“aku harus selalu tampil cantik di depanmu, di depan lelaki pemilik satu-satunya hatiku. Oh ya, how’s your life, Ndra?”

“baik Cit, baik. tapi tetap saat bersamamu adalah yang terbaik.”

“aku udah cantik gini masa iya mau kamu lempari gombal juga?”

Lalu kita berdua tertawa ringan, ah sial. Tawanya itu, mana bisa aku mengabaikannya begitu saja. tawa yang rutin memenuhi mimpi-mimpiku. tawa dari bibir yang selalu berhasil menggugah nafsuku. bibir yang selalu ingin kenikmati hingga akhir hidupku. Hanya bibirnya, tak ingin bibir yang lain.

“Indra, istrimu masih belum tahu tentang kita?”

“nggak akan tahu Cit, nggak akan.” 

"hhmm, this is for You, Sweetheart."

Aku menyodorkan sebuah undangan dengan kertas warna putih gading dan pita hijau, warna favoritnya. Ia menerimanya, membukanya perlahan dan menghela nafas panjang. Menitikkan air mata. kuharap itu air mata lara dan sesal. semoga.

“Indra.. maaf.”

“kenapa harus dengan Mario Cit? Kenapa nggak dengan lelaki lain kamu menikah? Kenapa harus dengan lelaki yang menjadi musuhku?”

Aku hanya bisa terdiam dan tersenyum. Berusaha tersenyum tepatnya.

“aku nggak bisa kalau tahu kamu menikah begini. aku sayang banget sama kamu, aku cinta banget sama kamu. Aku nggak bisa hi...”

“nikahi aku! Padamkan api cemburuku terhadap istrimu. Beri aku tempat yang layak dan terhormat, bukan selingkuhan. Bisa Ndra? Hah? Bisa?”

tanyaku, setenang mungkin. dengan tatapan mataku yang tenang dan menusuk. aku ingin membawa keseluruhan jiwa Indra masuk kedalamku, merasakan betapa lelahnya aku dengan semua kisah kita, 3 tahun penuh penantian bodoh, selama itu pula aku mengharapkan Indra melihatku, memahami inginku, mengerti cintaku.

tapi ya, Indra hanya bisa terdiam, bungkam, tak mampu menjawab. Tapi matanya masih nyalang penuh amarah, kobar api begitu nampak nyata lewat tangannya yang mengepal. 
Lelaki ini benar-benar lelaki yang kucintai, sekaligus kubenci. 
 
Aku berdiri, menghampirinya, tersenyum, dan melumat bibir tipisnya dengan penuh nafsu. Ciuman perpisahan. 

“terima kasih untuk semua malam indah yang pernah kamu beri. Aku pergi , Sayang.”
 

**
Begitulah lelaki.
Ia marah karena ia tak ingin aku, wanita yang ia cintai menikah dengan pria lain.
Ataukah ia marah karena egonya berteriak, ia akhirnya dikalahkan oleh musuh bebuyutannya, Mario.
Ia marah karena aku akhirnya yang lebih dulu mengambil sikap dengan menyudahi hubungan bodoh selama ini, atau ia marah karena ia tak mampu membahagiakan aku, wanita kecintaannya?
Lelaki akhirnya tetap menjadi misteri, isi kepalanya selalu rumit dan seringkali berbeda dengan apa yang tubuhnya lakukan.

Ia mencintaiku, tapi ia menyetubuhi istrinya.
Ia mencintaiku,  tapi ia menikahi istrinya.
Ia mencintaiku, tapi waktu hidupnya dihabiskan dengan istrinya.
Ia mencintaiku, tapi ia menghujaniku dengan cemburu  dan penantian hampa.
Ia mencintaiku, tapi ia tak berdaya saat aku terluka.
Ia mencintaiku, tapi ia membiarkanku sendiri.
Ia mencintaku,  akupun mencintainya.
Dan kita berpisah.

Akhirnya memang aku merasakan, ada jenis cinta yang sekalipun sudah saling berbalas, saling mencintai, tapi tetap mampu saling menyakiti hingga akhirnya perpisahan getir yang menjadi penutup kisah. 
Kisah cinta bodoh, kisah tentang cinta yang tak harus bersama.


6 komentar:

  1. Ebuset, katanya cupu tapi udah ngeblog dari tahun 2009. Saya aja kalah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kak, tahun 2009 kan bikinnya doang, kalau secara isi blog kan ya cupu banget. jauh ama punya kak Arif yang selalu bisa bikin pembacanya tepuk tangan saking apiknya.

      Hapus
  2. Kisah yang berasa novel banget. Kalau dinovelin lebih keren lagi nih.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi terima kasih udah main kak, iya nih ceritanya masih dangkal banget, belum nemu twistnya :((

      Hapus
  3. Balasan
    1. hae mbak Hanny, telimakaciii :D

      tapi akunya masih stuck di twist kalo mau dibikin seri :(

      Hapus

thank you for coming reader |read my older posts please | nhaz montana