08 Mei 2018

Bahagia


"Gimana keadaan kamu sekarang?"

"Baik."


"Lebih bahagia ya sejak melepas dia?"

"hhmm, melepas? ngga ada yang aku lepaskan. Aku toh tidak pernah menggenggamnya, memilikinya. Apanya yang dilepas?"

"Tapi kamu kelihatan lebih segar loh serius."

"Syukurlah. Kamu sendiri gimana? kerjaan makin sukses yah?"


"Jangan tanya ke saya, pertemuan ini tentang kamu. Kamu bahagia sekarang?"

"No. Aku ngga bahagia dan ngga tahu apa aku perlu merasakan bahagia."


"Oh my God."

di balik selimut, tiba-tiba ia memeluk dengan erat. sangat erat. 

saya menangis lepas, namun teredam di dadanya. 

saya balas memeluknya. 

terus begitu hingga matahari perlahan menyelipkan sinarnya di antara tirai jendela.



***

"Makasi, kamu selalu ingat sarapan paling wajib untukku ya."

Saya meletakkan secangkir kopi dan toast di atas meja di hadapannya.

"Enam tahun, sudah nempel di dalam kepala segala sesuatu tentangmu, apalagi seremeh sarapan wajibmu."

"Thanks."

"Semalam, kenapa kamu tiba-tiba memelukku?"

"Enam tahun, gimana bisa saya luput mengenali kamu ketika hancur. Maaf ya untuk bertanya padamu tentang bahagia." 

"It's ok."

"Sekian banyak orang yang saya kenal, cuma kamu yang alergi pada bahagia."

"Kamu tahu dari mana kalau saya bermasalah dengan bahagia? seingat saya cuma Rizka yang tahu kalau saya bermasalah dengan apapun yang berkaitan tentang bahagia."

"Enam tahun, Ninnas, enam tahun."


***







Sumber foto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank you for coming reader |read my older posts please | nhaz montana