11 Juli 2016

Pada Senja


Barangkali aku memang tak layak disebut sebagai pecinta senja. Aku hanya sempat memburunya, memujanya sejak kanak-kanak hingga detik sebelum kamu menceritakan kenangan sialanmu. Karenamu, terima kasih Sayang, kini aku muak dengan segala tetek bengek tentang SENJA. 

***

Di suatu siang, tiba-tiba kamu memutuskan menghampiri kantorku dan mengajakku pergi, mendadak tanpa basa-basi ajakan makan siang. Untung saja aku mencintaimu separah itu. 

"Udah ikut aja yuk! temani saya ya." memohon sambil menyunggingkan senyum petaka itu, mana bisa aku menolakmu. 

"Iya bentar, 5 menit lagi. Kamu tunggu di depan aja."

"Ok."

Lalu tiba-tiba di sinilah kita, pantai yang sepertinya belum pernah kudatangi, tak terlalu jauh dari kota Malang kota. Eh atau aku yang tak menyadari betapa jauhnya. Karena bersamamu, waktu dan jarak sama sekali bukan masalah. Selama denganmu, semua pasti indah saja terasa. 

Aku masih mengagumi senja di pantai indah ini, jika bisa dipigurakan bagaimana ekspresi wajah dan mataku, barangkali mataku akan serupa kilauan lampu kota. Menikmati senja seindah ini, di pantai dengan pasir lembut, bersih, sembari bersila di sampingmu. 



"Kamu sejak kapan suka senja?" Begitu saja tiba-tiba aku penasaran tentang dia dan senja, karena aku melihat binar mata yang yaaa bisa dibilang bahagia, tapi sendu pun seakan tergaris melengkapi sorot matanya. 

"Sudah sejak lama. Kalau kamu?"

"Sejak kecil sekali, ayah dan ibu sangat  menyukai pantai, mereka pertama kali bertemu di pantai tanpa sengaja dan ya begitulah, pernikahan mereka bahkan diselenggarakan di pesisir senggigi, indah, khidmat dan hanya dikelilingi orang-orang terdekat. Kemudian saat mereka memiliki anak, kakak dan aku, kita sekeluarga seperti keluarga yang gemar mengejar senja di berbagai tempat, ayah ibu memburu senja di pantai tentunya, kakak lebih menyukai senja di perkotaan, semacam senja yang mengintip di balik gedung-gedung tinggi. Gitu deh."

"Kalau kamu sendiri?"

"Aku suka senja di mana saja, senja selalu indah bagiku. Kamu sejak kapan tepatnya?"

Dia menunduk beberapa detik kemudian tersenyum dan memandang jauh sekali ke depan, ke lautan. 

"Sejak Dia mengajak saya pertama kali."

"Dia? dia siapa?"

"Senja. Namanya Senja, mantan istri saya."

"Oh."

Harusnya "OH" saja cukup untuknya memahami bahwa saya mendadak hilang selera terhadap apapun, bahkan terhadapnya. Dan barangkali ini salah satu alasan lelaki patut dimaki dengan kalimat "mereka tidak peka" ya karena hal semacam ini, Rusli lancar saja meneruskan ceritanya padahal saya sudah mengucap penutup perbincangan dengan "OH". 

"Senja mengajak saya ke pantai di dekat rumahnya, dia bilang kakek dan neneknya sering sekali mengajaknya ke pantai itu dari dulu. Dan kemudian aku melihat lebih dekat ke matanya, benar saja dia dinamakan Senja. Mungkin karena bentuk matanya yang sendu namun indah luar biasa, serupa senja. Matanya berbahaya, karena selalu bisa membuat semua orang hanyut di dalamnya, hehehe ternasuk saya waktu itu."

"Waktu itu dan hingga kini?"

"Mungkin."

"Bahkan setelah 3 tahun bercerai?"

"Iya. Maaf ya saya mengajakmu ke sini tanpa mengatakan apa-apa. Main culik aja dari kantor."

"Hehehe it's ok."

"Saya rindu Senja."

Saya hanya tersenyum pahit, kecut, getir dan sedikit muak. Apa-apa yang selama ini kita jalani berdua selama 2 tahun ternyata hanya sebatas kegiatan penghabis waktu luang baginya, saya masih dianggap bayangan kabur di hidupnya. Kepala dan hatinya masih padat dijejali kenangan akan mantan istrinya.

***

"Halo, bisa tolong disambungkan dengan Riana?"

Setelah menunggu sebentar, telefon Rusli tersambung dengan Riana. 

"Ya dengan Riana, ada yang bisa saya bantu?"

"Riana, jangan ditutup telefonnya. Saya butuh bicara."

"Saya sedang sibuk, kalau kamu mau bica..."

"Saya mohon dengar sebentar. Saya tahu kamu sibuk, tapi saya hanya ingin minta maaf jika saya melakukan kesalahan padamu. Saya sungguh minta maaf, Riana. Tapi barangkali saja juga berhak mendapat penjelasan atas amarahmu dan penghindaran darimu. Ada apa, Riana? ada apa?"

Setelah menghembus nafas lirih, menahan perih dan kecewa.

"Rusli, kamu tidak salah apa-apa. Saya yang salah sudah terlalu tinggi melambungkan harapan. Ketika di pantai kamu bilang kamu rindu Senja, seketika itu juga saja benci senja. Saya benci senja yang selama ini saya kagumi di setiap sore dan Senja yang tak kunjung hilang dari hatimu. Saya benci pada senja, Rusli. Saya benci."

Keduanya terdiam hingga durasi yang mematikan sambungan telefon mereka berdua. 


 ---








foto dari Mia Kamila 

2 komentar:

  1. Rasanya nyesek banget, pas tahu ternyata harapan tak sesuai dengan kenyataan. Berharap terlalu tinggi, pada seorang yang belum lepas dari kekasih yang terdahulunya itu butuh waktu dan kesabaran ekstra.. Sekiranya sudah sabar pun pilihannya tinggal dua, mau tetap bertahan atau menyerah begitu saja :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan cuma nyesek, kayak ada yang kecabut aja dari dalam hati, istilahnya tanaman, kayak akarnya dicabut paksa. sakitnya kebangetan.

      dan karena aku tipe yang ga bisa dijadikan pilihan, yauda aku nyerah, kelar, lepasin dia.
      hahahahahahaa :))

      anw, thanks for coming :')

      Hapus

thank you for coming reader |read my older posts please | nhaz montana