14 Februari 2015

sekembalimu, aku menunggu.




Sudah pukul 17:06 WIB aku masih sendiri di salah satu sudut sebuah cafe. Berulang kali beringsut, tegak, (mencoba) bersantai, hingga gugup panik di atas sofa hijau yang jika dalam keadaan normal, aku pasti sudah sangat relax hampir tertidur di atasnya. Sofa yang sangat nyaman untuk ukuran cafe di dalam toko buku. Sebentar, kenapa jadi membahas sofa? baiklah mari lewati. 

Tidak tidak tidak, aku sedang tidak bekerja. Ini hari Sabtu dan sekalipun bukan hari Sabtu, aku masih tidak bekerja, secara formal. Pekerjaanku bisa disebut melanjutkan hobby, kegemaran menulis yang kemudian berkembang dan menjadikanku penulis lepas yang bisa menghasilkan uang di manapun dan kapanpun selama ada laptop dan koneksi internet tentu saja. Ah! selama ada dia juga, karena dia satu-satunya pusaran inspirasi dan jiwa di tiap tulisan yang kuhasilkan, entah tentang cinta ataupun tulisan abstrak sekelas ulasan sebuah buku. Tetap dia inspirasiku. Dia yang sekarang sedang entahlah melakukan gaya apa di sebuah gedung di seberang jalan sana. 

Mari sebut saja dia Ilham, ah jangan, terlalu berat. Satya saja kurasa pas. Oke, Satya, dia adalah Dia-ku. Yang jika saja bukan karena besarnya atau bodohnya rasa cintaku, sudah pasti aku pergi sekarang karena jengah menunggunya selama 3 jam. TIGA JAM! 

*menghela nafas sesabar mungkin* 
Lalu kemudian prosesi tarik dan lepas nafas ala yoga ini terganggu oleh bunyi dering iPhoneku yang tingkat suaranya lupa kuturunkan, hingga seisi cafe ini serasa menoleh sinis padaku. Kuaduk tas hitamku yang kata banyak teman adalah minimarket berjalan saking penuh dan lengkapnya isi tasku, yap akhirnya aku menemukan benda kecil berisik ini.

"Halo."

"Gila ya, lama amat sih ngangkatnya"

"Maaf, maaf ih, tadi iPhonenya di tas, jadi ya gitu deh."

"Makanya tas jangan kayak tong daur ulang sampah, saking acak-acakannya. Lagi di mana kamu?"

Iya, itu dari sahabatku yang Subhanallah rewel dan protektif, tapi tetap kucintai sepenuh hati, Candra. Dia perempuan by the way. 

"Masih di Cafe Gramedia, napa?"

"Edaaaan. Ngapain sih kamu, hmmmm udah berapa jam nih? eh bentar, 3 jam ya? sinting udah 3 jam niiiihhhh" cerocosnya dengan volume yang menandingi speaker kondangan di kampung Dukuh Pakis. 

"Ya gimana lagi, Can. Dia belum keluar nih, kayaknya dia lupa deh kalau aku nungguin di sini."

"Ya udah pulang aja sih, Darling. Mau kujemput? mumpung aku ama Dodik lagi di A.Yani mau ke TP nih, kan searah tuh."

"Nggak usah, aku bawa mobil kok. Aku tunggu sampai jam 7 deh, kalau dia belum ke sini juga, baru aku cabut."

"Dia lagi di hotel mana sekarang?"

"Hotel Ibis depan kok. Makanya kita janjian di sini, kan deket."

"Lagian kamu ngapain sih Nad nungguin dia kayak gini terus? mau sampai kapan?"

"Can, kamu tahu kan itu pertanyaan yang nggak akan bisa kujawab."

"Nada, dia lagi nidurin perempuan lain. Dia lagi ML sama perempuan bejat lainnya. Ngapain kamu tungguin sih? buat apa?"

"Aku kangen dia, Can. Aku harus nunggu dia. Aku pengen ngobrol sama dia. Aku..... Aku.... entahlah. Aku nggak bisa pergi sebelum dia nyuruh aku pergi."

Aku mendengar Candra menghela nafas dengan berat, aku mendengar suara frustasi di tiap ucapannya. Sahabat yang frustasi, dan aku tetap tidak dapat melakukan apapun untuk meredakan rasa frustasinya. 

"Dia nggak akan nyuruh kamu pergi karena dia tahu kamu yang sebenernya terbaik buat dia. Dia cuma terlalu sibuk ngurusin kemaluannya yang rakus. Dia cuma berkelit dari tanggung jawabnya untuk menikah. Dia tahu dia membutuhkanmu, tapi dia terlalu takut untuk memulai pernikahan. Dan selama ketakutannya itu ada, mau selama itu juga kamu nunggu dia tobat?"

"Aku nggak tahu, Can. Aku nggak tahu kenapa aku mau nunggu dia begini. Tapi yang kutahu, hati dan jiwaku butuh dia. Cuma dia. Dia dengan semua kelakuan menyenangkan dan kelakuan terkutuknya itu."

"Aku tahu kamu bisa nerima dia seberengsek apapun dia, tapi kamu yang sekarang sudah bukan lagi kamu yang dulu, Nada sayang. Kamu sudah tobat, kamu layak mendapatkan yang terbaik, yang lebih dari Satya."

"Tuhan belum kirim yang lebih baik dari Satya, Can. Dan aku yakin, hanya Satya yang paling tepat untukku. Dia sudah tahu luar dan dalamku, dia tahu baik dan burukku. Aku merasa hanya dengannya aku rela setia, hanya dengannya aku rela meninggalkan semua kenikmatan dunia. Aku mau nunggu dia aja, Can."

Sekali lagi aku mendengar helaan nafas yang berat dari Candra.

"Aduh Nada. Ah ya sudahlah. Kamu udah makan toh? Jangan gara-gara tegang nungguin dia, kamu jadi lupa makan ya."

"Iya, bawel. Thanks ya."

"Ngomong-ngomong, kali ini perempuan mana lagi yang Satya tiduri?"

"Aku juga kurang tahu pasti, tadi sih di Whatsapp dia bilang kalau perempuan ini kliennya, calon nasabahnya."

"Dasar gila. Ya udah ya, bilang ke dia buruan tobat sebelum diterkam raja singa." 

"Heh!!"

"Yauda ya. Bye, Darling"

"Bye, salam ya buat  Dodik, jangan kebanyakan makan di TP, ntar baju akadnya nggak muat lagi. Dirombak lagi deh."

"hahaha diem deh. yauda ya daaaahh. I love you, Darling."

"Loye you too."

*klik*

Selalu menjadi sentimentil saat obrolan antara aku dan Candra menyinggung tentang Satya. Aku tahu dia tak ingin melihatku sedih atau terluka lagi, tapi ya entahlah, mungkin memang aku mulai kecanduan pada rasa sakit akibat cinta. 

Cinta itu menyakitkan saat kita harus menunggu kedatangannya dengan perasaan kacau balau.
Cinta itu menyakitkan saat kita tetap tak bisa ke mana-mana sekalipun tahu bahwa tubuhnya sedang dipuaskan oleh perempuan lain.
Cinta itu menyakitkan saat kita memandang rintik hujan dan menyadari bahwa yang kita cintai mungkin tak akan pernah datang lagi.
Cinta itu menyakitkan saat kita harus berjuang seorang diri, memperjuangkan kehampaan.
Cinta itu menyakitkan saat kita harus menggadaikan waktu dan usia demi kepastian yang entah kapan datangnya.
Cinta itu menyakitkan saat senyum puas darinya bukan lagi kita penyebabnya.
Cinta itu menyakitkan, jika dengan Satya hatiku berurusan.


"heii"
Satya menyentuh pundakku dan tersenyum. Astaga senyumnya, selalu membuat lututku lemas. Untung saja aku sedang duduk.

"hai, mau minum apa? nih ada tuna sandwich, atau mau nambah makanan sekalian?"

"cokelat panas aja deh, nggak usah makanannya ini aja cukup."

Aku melambaikan tangan pertanda memanggil salah satu pramusaji, dan memesan cokelat panas. 

"Tumben kamu nggak makan. Biasanya setelah bercinta kamu pasti kelaparan. "

"Hahaha iya laper, tapi sandwich aja cukup kok. Aku nggak serakus kamu kali."

"Enak aja!! anyway, tadi gimana? siapa sih dia?"

"Hmmm Sarah atau Siera ya namanya, aku lupa. Dia nasabah potensial sebenernya, tapi ya begitulah, dia mengajakku bercinta dan seperti yang kamu tahu, aku paling payah menolak ajakan macam itu. Setelah kamu tobat, aku tak tahu lagi bagaimana cara memuaskan hasratku. Dan tentang gimana, gimana apanya? ya dia biasa aja, bercinta seperti pada umumnya. Kami melakukannya hanya sekali, dan ya seperti biasa aku nggak bisa lebih dari sekali jika bukan dengan kamu, Nada."

Aku hanya bisa tersenyum. Tapi entah apa, di dalam hatiku, aku bahagia, dan menangis dalam satu waktu. Hati serta isi kepalaku sudah acak-acakan dan jika harus diuraikan dengan cara deskriptif, mungkin akan makan waktu 7 hari 7 malam untuk menjelaskan rasanya mendengar ucapan Satya barusan. 

"Tapi dia pasti bisa memuaskanmu kan?" 

"Nggak. Dia nggak bisa. Nggak ada yang bisa selain kamu."

"Sat...."

"I MISS YOU, NADA. Really do."


***




4 komentar:

  1. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    www.fikrimaulanaa.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah kalau suka. :D terima kasih sudah mampir. sering-sering mampir ya.

      hihihihi
      #Ngelunjak

      Hapus
  2. cinta itu memang menyakitkan.
    tapi terkadang, sakitnya itu justru yang bikin kita semakin kuat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener. anggaplah ini proses dari kepompong menuju kupu-kupu.

      terima kasih ya sudah mampir :)

      Hapus

thank you for coming reader |read my older posts please | nhaz montana