10 Oktober 2018

Galau


Sepertinya saya perlu sesekali mencari tahu tentang jenis kelainan psikologi yang membuat waktu di sekitar saya seolah terhenti ketika saya diharuskan untuk memilih. 

Memilih apapun. 

Kali ini, seperti saat-saat sebelumnya, saya diharuskan memilih. 

Kenapa memilih tidak pernah bisa menjadi perkara yang mudah bagi saya?
KENAPA?

Kemarin, saya diam beberapa menit ketika dihadapkan pada dua pilihan kain yang diajukan Ci Melinda di JMP, pemilih toko kain langganan saya yang sudah turun temurun sejak eyang uti saya. 

"Ci, ini bukan acara besar, saya cuma pakai buat acara tunangan sepupu saya kok. Nggak usah mewah gini lah pakai ada bling bling segala warna gold."

"Loh, lah wong kamu ndak isa milih dewe gitu loh. Nyoh kan tak kasik pilihan, gold muewah iki atau sing gold agak kalem iki?"

"Ya maksudnya jangan gold, Ci Mel. Yang warna salem aja lah, tar dikira aku yang mau tunangan kalau pakai warna emas nyolok gitu."

"Sek tungguen."

Ci Melinda kemudian berteriak meminta salah satu pegawainya mengambil beberapa kain warna nude yang sepertinya menjadi tujuan pilihan saya berikutnya. Setelah satu jam 25 menit, akhirnya saya berhasil keluar dari toko Ci Melinda dengan tenang menggenggam kantong berisi kain nude dengan bordir kecil yang cantik. 

Hari ini?
Saya lagi-lagi dihadapkan pada dua pilihan. 

Dua-duanya sama-sama baik, menggoda, dan manis.

Lelaki satu, dia pintar, seorang area manager sebuah perusahaan telekomunikasi ternama di Indonesia yang kebetulan sedang ditempatkan untuk bertugas di Surabaya. Kami bertemu sengaja tidak sengaja di sebuah restoran. Begini, saat itu sedang acara ulang tahun pernikahan sahabat saya, YO'I tiap tahun dia ngerayain wedding anniversary dengan mengundang segala yang saat itu pengen dia undang. Tamu langganan sih saya sebagai sahabat sejak SD, sahabatnya kuliah yang tentu saja sudah semuanya saya kenal karena cuma tiga orang plus suami mereka masing-masing jadi berenam, kemudian empat orang rekan kerja setianya, dan dua sepupu lelakinya yang sedari kecil selalu nempel bak pengawal pribadi. Sisanya ya teman-teman yang datang dan pergi dalam hidupnya yang diundang. Tahun ini adalah tahun kelima. Ketika momen pesan-memesan makanan dan minuman tiba, saya memesan es kelapa muda, karena di IBC, es kelapa mudanya memang uuuhh andalan. Namun entah kenapa malam itu sepertinya ada yang salah, es kelapa muda yang biasanya muncul paling dulu kini muncul terakhir. Ketika pramusaji datang menawarkan es kelapa muda yang ia bawa harus diletakkan di meja mana, saya otomatis angkat tangan, 

"SAYA MBAAAKK! SINI SINI!"

Mbaknya terlihat kebingungan, kemudian saya menelusur arah lain dan ternyata ada satu tangan lagi yang terangkat, dan hanya tangan kami berdua. Saya sepintas melihat siapa dia? eh tampan, eh berkacamata, eh rapi. Kemudian saya memutuskan menurunkan tangan saya dan pramusaji tersebut kemudian memberikan es kelapa muda tadi ke lelaki di barisan ujung sana. 

Sudah hampir di ujung acara, saya memutuskan untuk berpamitan dengan Ridha, sahabat saya. 

"Aku balik duluan ya, besok ada meeting pagi soalnya." 

"Oh yauda,  makasi yaaa, Love."

Kami berpelukan, saya mengecup pipi Ridha, dan lanjut berpamitan dengan Raden, suaminya. 

"Eh, bentar bentar, kamu balik naik apa?"

"Mesen taksi aja sih ntar. Kenapa?"

"Tar dulu. ROOOOYYYYYYY, RROOOYYY."

Ridha teriaknya ngga aturan astaga. Dia berteriak memanggil sepupunya, Roy. 

"Apaan?"

"Kamu katanya mau balik ke arah Ngagel anterin temenmu dulu, bareng lah nih anterin Ridha skalian, kan kosannya sekitar sana juga."

"Oh ya ga apa. Bentar ya, aku nunggu temenku dulu. Masih ke toilet dia."

"Oh ok. Sorry ya Roy ngerepotin."

"Halah, santai."

Sembari menunggu saya sibuk mengecek pesan masuk ke ponsel saya, sampai kemudian Roy menepuk pundak saya. 

"Yuk!"

Saya menoleh dan melihat lelaki kelapa muda berjalan bersama Roy. Begitu di dalam mobil, Roy memperkenalkan temannya, Beni. Kami berjabatan tangan. Setelah beberapa menit, Beni kemudian menyodorkan ponselnya pada saya, meminta saya memberikan nomor hp padanya. 

Esok harinya, Beni mengirim pesan

"Kamu pulang kerja jam berapa? aku jemput ya. Kasih tahu aku alamat kantormu."

Saya? tentu saja mau. 

HAHAHAHAHAA..

---

Lelaki dua, dia memanjakan saya dengan luar biasa. Apapun yang saya bilang saya inginkan bisa dengan mudah ia berikan. Namanya Tirto. Saya mengenalnya kurang lebih sudah tujuh bulan. Dia selalu memberikan kehangatan yang saya butuhkan. Saya enggan meninggalkan dia, dia juga demikian. Sekali saya pernah mengajukan pertanyaan mengenai hubungan kita apakah akan menuju jenjang serius atau bagaimana? dia menjawab dengan kekosongan. Jenis kekosongan yang sangat saya benci. Di kemudian hari, kita akan bertemu lagi, saling bertemu, memanjakan, berkirim pesan, dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa.

Dia adalah yang paling cepat kalau berurusan dengan memastikan keadaan saya. Beberapa kali pesan dia saya abaikan karena saya sedang tidak enak badan, satu jam kemudian, Bi Tarsih, pembantu kosan menggedor pintu kamar saya dan mengantarkan semangkok bubur hangat, kiriman dari Tirto. Bukannya ngga ada kerjaan, tapi memang sebagai pengusaha, pekerjaan dia memang fleksibel, mudah menyesuaikan waktu yang ia miliki.

Berulang kali saya memikirkan, apa nama kehangatan cinta macam ini kalau arahnya bukan menikah?
Bersenang-senang juga terasa salah. 
Kami tidak hanya bersenang-senang, kami saling berbagi keresahan, berbagai kebahagiaan. 
Namun entah apa, ada yang menganga di hati, ada yang tak lengkap. 

Kami bukan pasangan gelap yang harus menyembunyikan identitas satu sama lain, saya mengenal orangtuanya, dia mengenal orangtua saya. 
Tidak, kami juga tidak berpacaran. 
Kami ya begini saja berjalan, saling sayang.

Rasanya dia hanya belum sudi saja menikah, atau mungkin menikahi saya. 

Saya resah, namun banyak memasrahkan saja akhirnya.

---

Hari Jumat ini harusnya berjalan seperti biasa. 

Namun tiba-tiba Beni menjemput saya di kantor dan memaksa mengajak saya makan siang, di sebuah restoran makanan Indonesia. Ia kemudian menggenggam tangan saya, 

"Tari, kita tunangan yuk. Rasanya kok aku mau ada kamu terus ya di hidupku."

"Hah?"

Saya masih diam, melongo. 
Beni kerasukan apaan deh?
Tapi ngga, dia ngga mungkin kerasukan. 

Ini ada apa lagi?
Beni yang per hari ini sudah sebulan saya kenal, yang dinginnya ga karuan, yang datang dan perginya selalu memberikan percikan menyenangkan dalam hati. Yang cuek cuek begonya bikin saya ngga bisa berhenti mikirin dia dan membayangkan, ini gimana ya kalau seandainya saya nikah ama dia? ngakak mulu pasti hidup kita. Tapi dianya banyak cueknya. Cuek tahu tahu ngajak tunangan. Gimana coba?

"Ben, aku boleh mikir dulu ngga?"

"Tentu, aku kasih waktu dua menit."

"Woi ya ngga dua menit juga. Dua hari lah ya."

"Mikirin apa sih emang?"

"Ke Kyai dulu, minta petunjuk. Kamu kerasukan apa ngga."

"Hahaha orite. Minggu aku tunggu ya, Tar."

---

Jumat yang sama pukul tujuh malam, Tirto tiba-tiba datang ke kosan. Seperti biasa kami duduk di ruang tamu, melihat acara TV sekenanya. Tirto mengalungkan lengannya di pundak saya, memeluk lebih erat daripada biasanya. 

"Sayang, usia kita semakin lama kan semakin bertambah."

"Iya, terus?"

"Semisal bulan depan kita tunangan gimana?"

ALLAHUAKBAR.
OOHH TENTU SAYA BERTERIAK HANYA DALAM HATI.

"Kamu minum jamu apa tadi sebelum ke sini?"

"Hah? minum kopi aja kok, kenapa emang?"

Saya pegang dahinya, aman sih harusnya. 

"Gimana, Sayang?"

"Gimana apanya?"

"Ya itu tadi, kita tunangan ya bulan depan?"

"Aku pikir-pikir dulu."

"Loh kenapa? bukannya kemar...."

"Sayang, aku mikir dulu ya, Minggu aku kasih keputusan. Ok?"

"Ok."

---

"WOOIII TAAR! buruan!"

Saya pikir-pikir Ridha sekeluarga ini suaranya melengkingnya mengganggu sekali ya. 

"Buruan apanya?"

"Itu milihnya, mau yang dingin atau yang hangat?"

"Yang dingin aja kayaknya lebih menyegarkan ya, Beni aja deh. Eh tapi hidup kan nggak bisa bersandar ama yang dingin terus ya, kalau sama Tirto kan dia hangat banget sama aku, ngerti banget. Tapi Beni tuh bisa ngasih percikan gitu loh, bikin hidup terus berasa seru. Hhhmm tapi Tirto nenangin banget. Jadi gimana ya, Dha?"

"Tar, itu teh manisnya maksudku, mau yang dingin atau yang hangat."

"Oh teh manis. bentar bentar lagi mikir nih, mau teh manis dingin atau teh manis hangat. Duh akunya galau mau teh manis apa."





---






#NulisKamisan #S4 







--- 

Sesampainya di kosan setelah bertemu Ridha, ponsel saya berbunyi, Ridha mengirimkan pesan.

"Beb, kayaknya kamu minta waktu lagi deh ke mereka berdua. Milih es teh dan soto pisah atau ngga aja kamu lama banget, apalagi milih jodoh seumur hidup? Minta tambahan waktu buat mikir, ngga bisa cuma dua hari. Sekalian kamu pakai waktunya buat istikharah, minta pentunjuk yang terbaik dari ALLAH. Sekalipun dua-duanya sama-sama baik ibadahnya, kalau urusan mana yang terbaik kan hanya ALLAH yang tahu. Ok? love you 💗" 





28 September 2018

Rosamund Pike

GILAAK GILAAAAKK~~

Sebenernya saya nih kan ngga suka ngelihatin cowok ganteng ya, dan karenanya saya lebih bahagia kalau lihat perempuan cakep plus seksi; seksi otak dan gerakan tubuhnya, bukan bentuk tubuhnya aja ya.

Lalu lalu lalu, kemarenan sempet lihat aktris Hollywood yang ALLAHUAKBAR cakep, fierce, seksi, acting dan tatapan matanya beneran kusuka sekaleeee~

Yang rasa-rasanya kalau diizinkan lahir kembali, ingin jadi seperti mbaknya ini.


ROSAMUND PIKE 😍








Acting dia di film Gone Girl tuuhhh gilaaaak sik ya, kemudian di film dengan genre yang bertolak belakang, Pride and Prejudice dia bisa jadi manisss banget. Di Hector and the Search for Happiness juga dia bisa kalem luar biasa. Berikutnya saya nonton dia di Return to Sender, agakan mirip di Gone Girl karakternya, but still AWESOME...

Rasa-rasanya karakter yang cocok ama dia ya emang yang gitu, tenang, manis, meneduhkan, tapi bisa menghancurkan juga. 

Dah pokoknya cinta gilaak sama mba Pike.. 

Sehat-sehat terus ya mbaknya. 


MWAH 😘

24 September 2018

Sepeda


Senin, 3 September 2018


Setelah satu setengah jam, saling bertukar tatapan mata, di akhir jam tutup café, kami akhirnya saling melempar senyum. Masih belum ada sapaan.
Sesampainya di rumah, secekatan mungkin saya mencari tahu tentang lelaki tadi. Saya mencari tahu melalui akun media sosial manapun yang biasa saya gunakan, bahkan ke Linked In, hasilnya? DENG DONG!!
Kalau sudah penasaran begini, seringnya sampai beberapa hari ke depan, fokus saya agak terganggu. Bahkan tidur juga rasanya ada yang tak nyaman. Saya paling tidak bisa menahan kegelisahan atas perkara cemeh macam begini tanpa menyuarakannya pada sahabat saya.
“Apanya sih yang bikin penasaran? Sampe susah tidur segala.”

“Ya ngga tahu, Lin. Begini aja gitu.”

“Dia ganteng? Pinter?”

“Hhhmm ganteng, ngga juga. Tapi aku suka liat wajahnya. Pinter ya gimana bisa ketahuan kan belum ngobrol ama dia.”

“Kelihatan kayak bad boy ya?”

“Iya. Kok tahu?”

“Dih, udah sahabatan puluhan tahun, yakali aku ngga tahu seleramu. Kamu kan demennya yang blangsak gitu emang, tapi begitu diseriusin mumet maunya yang kebapakan."

Kemudian Lina tertawa keras, penuh ejekan, dan tetap menyebalkan. Untung aku sudah terlanjur sayang padanya, kalau tidak, waaah udahlah udah.

“Monyet. Emang gitu ya?"

“Ya iyalah, coba kamu inget baik-baik deretan lelaki di hidupmu, banyakan good atau bad boy? Atau mau aku bantu nyebutin?”

“GAK USAH!”

“Eh bentar deh Ra, dua hari lalu kan kamu curhat tuh kalau kamunya lagi merasa ngga nyaman dengan kepercaya dirianmu, nah coba deh jadikan masnya sarana untuk ngebantu kamu ngetes. Kamu masih punya cukup rasa percaya diri atau ngga?”

“Maksudnya?”

“Ajakin dia kenalan, minta nomor HPnya, sampe ngobrol seru sama dia. Kalau kamu bisa, yakin deh sebenernya kepercaya dirianmu tuh ga kenapa-napa.”

Setelah beberapa obrolan dengan tema lain, akhirnya saya menyudahi perbincangan saya dengan Lina melalui telepon. Kalau sudah begini, sebal rasanya punya sahabat terbaik yang tinggalnya di beda kota. Pengennya supaya kami bisa tinggal di kota yang sama aja. Huh.



***


Senin, 10 September 2018


            Di cafĂ© yang sama, dia duduk di meja yang sama dan tetap tanpa teman. Saya jadi berpikir, dia ini sebenarnya memang seorang penyendiri atau jangan-jangan memang yang punya cafĂ©. Di mejanya ada satu, dua, tiga, empat, lima, lah buseett 6 botol bir dingin. Rasa-rasanya minggu lalu juga sama, ada beberapa botol minuman itu di mejanya. Dianya memang gemar beli sebanyak itu atau emang owner cafĂ© karenanya dia bebas ambil minum sebanyak apapun.

             Mata kami bertemu lagi, kali ini saya senyum, lebih lebar. Dia membalas senyuman, lebih lebar juga, dan terlihat barisan gigi rapinya. Sial, dia lucu. Kan sisi saya yang gampangan jatuh cinta ini jadi terancam kalau begini.

           Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu. Bir dingin di mejanya semakin bertambah, puntung rokok dalam asbak di mejanya juga makin menggunung. Dan dia masih saja sendiri, tidak ada teman yang kemudian menghampiri. Saya? Oh saya tentu saja datang dengan seorang teman. Ketika teman saya memesan minuman tambahan ke kasir, saya kemudian memberanikan diri menyapa lelaki ini.

                “Sendirian aja mas?”
                Pertanyaan saya ajukan ketika ia tepat mendongak dan menatap mata saya.

                “Eh, saya?”

                “Iya, masnya. Sendirian aja?”

                “Oh iya.”

                Masnya tersenyum. Saya mengumpat dalam hati. Kok bisa ada mas yang lucu begini tapi tingkatan lucunya pas, ngga terlalu lucu, ngga aneh juga. Saya gemas.

                “Mas yang punya cafĂ© ini?”

                “Hah? Saya? Nggak lah bukan. Pengunjung aja di sini, tapi setia.”

                “Oh, kirain. Masnya emang suka sendirian atau ya emang lagi pengen menyendiri aja?”

                “Dua-duanya bisa. Dan ya emang ngga ada temen ngebir aja, jadi ya…..”

                Kemudian teman saya datang, kami mengakhiri obrolan kecil tadi dengan saling mengangguk.



***


Jumat, 14 September 2018


           Saya lagi lagi datang ke cafĂ© itu. Pertama karena suasana cafĂ©nya enak, lagunya pas, penerangannya pas, dan ice red velvetnya enak, enak banget. Kedua dan yang utama, saya rindu lelaki itu.

          Jam menunjukkan pukul sembilan malam dan tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Jam 11 malam, masih belum juga tampak aroma dia akan datang. Jam 11 lebih 15 menit, saya sedikit kecewa. Kecewa pada harapan sendiri, kecewa pada hal yang tak jelas. Saya rindu, ingin melihatnya, melihat matanya, menikmati senyum ringannya, mengintip perlahan di balik pundak teman saya hanya untuk melihat ia menenggak bir dingin kesukaannya, melihat bibirnya menghisap rokok, melihat postur kurusnya, memandangi tato-tato di tubuhnya yang beberapa berusaha disembunyikannya di balik kaos, tapi dia tak ada, dia tidak datang. Atau kebetulan-kebetulan hanya terhenti di pertemuan akhir lalu? Ah sudahlah. Saya pulang. Saya menyesapi sakit hati teringan lagi. Sedikit sakitnya, tapi lumayan menyusahkan. 



***

Sabtu, 15 September 2018


                Saya yang tak mudah puas ini memutuskan untuk menghabiskan malam minggu di cafĂ© itu lagi. Saya tak mau sebutkan namanya, saya mau simpan untuk diri saya sendiri. Malam ini di cafĂ© sedang ada penampilan DJ dengan pilihan musik yang sangat nyaman di telinga, volume pas dan berhasil membuat tubuh relax. Saya memilih duduk di bagian dalam ruangan cafĂ©. Menyiapkan laptop karena memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda di kantor tadi sore. Beberapa menit kemudian saya merasa dia ada di sini, tapi mungkin di bagian luar seperti biasa. Saya mencari-cari dan ketemu. Dia ada di sana, sendirian. YES!

                Lalu apa? Saya harus bagaimana? Ah ya sudahlah yang penting ada dia, saya sudah senang. Satu jam terlewat. Saya yang duduk di meja dekat kasir mendengar suara lembut lelaki yang memesan bir dingin, oh tentu saja saya langsung mengangkat kepala dan mencari arah suara dan YAP! Dia yang sedang memesan minuman. Saya tersenyum sendiri, senyum sembari memandang daftar laporan keuangan perusahaan manufaktur di BEI yang terpampang terang di layar laptop. Hahahahahahaha.

                Saya masih mendengar suara dia berbicang dengan bartender di cafĂ©, sepertinya ia memutuskan duduk di bar. Wah wah wah, suka nih saya kalau begini, bahagia nih. Dan sedetik kemudian.

                “Hai mas.”

                “Hai mba.”

                “Sendirian lagi mas?”

                “iya, kayak biasanya. Hehehe.”

                “Daripada gitu, sini aja sih gabung sama meja saya.”

                “Heh?”

                Dia masih tampak ragu-ragu.

                “Udah sini aja daripada sendirian mulu. Yuk!”

                Dia bangkit dari kursinya, membawa botol minumannya, dan berpindah duduk di depan saya, semeja dengan saya. Saya? OOHH TENTU BERBUNGA-BUNGA DOOONG..

                “Saya Niara.”
                “Sandy.”

                Kami berbincang banyak hal. Terlalu banyak. Saya suka berbincang dengannya. Saya suka cara dia menjawab pertanyaan saya dengan jawaban ringan, saya suka cara dia menceritakan tato-tato di badannya, saya suka melihatnya mengalihkan pandangan ketika ditanya hal-hal khusus, saya suka melihatnya membetulkan kaosnya, saya suka melihat bahunya, saya suka melihat mata kecilnya, saya suka melihatnya memutar-mutar ponselnya ketika menjelaskan banyak hal. Saya suka awal perkenalan ini.

                “Nomor HP kamu dong.”

                Saya menyodorkan ponsel saya, dia menuliskan nomor HPnya, dan memencet tombol telepon. Senang, akhirnya kami saling bertukar nomor HP.  Waktu diusir telah tiba, pegawai cafĂ© sudah mulai bergerak ke sana-sini merapikan meja dan beberapa lampu cafĂ© sudah mulai dipadamkan. Kami berjalan bersama menuju parkiran.

                “Kamu naik apa, Mas?”

                “Tuh!”

                Dia menunjuk ke ujung area parkir cafĂ© ke arah satu-satunya kendaraan di sana. Sepeda.

                “Serius?”
                Dia mengangguk dan tersenyum lagi.

                “Kosan kamu bukannya jauh ya dari sini, ngga apa gitu naik sepeda? Mana udah tengah malam gini, kan anginnya kenceng.”

                “Kan pake jaket. Ini supaya imbang aja. Masa ngebir ngerokok mulu. Biar imbang, olahraga deh, dan paling enak ya sepedaan ini.”

                “Mmmm oookkeeee deh sip. Yauda mas makasi ya, hati-hati loh ya!”

                “Yok. Kamu juga hati-hati. Dah.”

                “Dah.”

                Bener-bener antik ini laki, saya jadi makin senang.



***

Lega rasanya bisa memastikan bahwa rasa percaya diri saya tidak bermasalah, saya masih punya cukup nyali untuk mengajak lelaki berkenalan dan berbincang.



***

Senin, 17 September 2018

"Mau ke mana kamu?" 
"Kantor lah." 
"Kok naik sepeda? mobilmu kenapa?" 
"Ga kenapa-napa, Bu. Ini biar imbang aja, masa aku makan molor makan molor aja, olahraga dong biar imbang. Nah ini mantep kan olahraga sepedaan ke kantor."

Saya berangkat ke kantor, Ibu tetap melongo sambil berdoa mungkin ya, 
semoga anak perempuannya ini masih dalam keadaan waras.

***






#NulisKamisan #S4
thank you for coming reader |read my older posts please | nhaz montana