24 September 2018

Sepeda


Senin, 3 September 2018


Setelah satu setengah jam, saling bertukar tatapan mata, di akhir jam tutup café, kami akhirnya saling melempar senyum. Masih belum ada sapaan.
Sesampainya di rumah, secekatan mungkin saya mencari tahu tentang lelaki tadi. Saya mencari tahu melalui akun media sosial manapun yang biasa saya gunakan, bahkan ke Linked In, hasilnya? DENG DONG!!
Kalau sudah penasaran begini, seringnya sampai beberapa hari ke depan, fokus saya agak terganggu. Bahkan tidur juga rasanya ada yang tak nyaman. Saya paling tidak bisa menahan kegelisahan atas perkara cemeh macam begini tanpa menyuarakannya pada sahabat saya.
“Apanya sih yang bikin penasaran? Sampe susah tidur segala.”

“Ya ngga tahu, Lin. Begini aja gitu.”

“Dia ganteng? Pinter?”

“Hhhmm ganteng, ngga juga. Tapi aku suka liat wajahnya. Pinter ya gimana bisa ketahuan kan belum ngobrol ama dia.”

“Kelihatan kayak bad boy ya?”

“Iya. Kok tahu?”

“Dih, udah sahabatan puluhan tahun, yakali aku ngga tahu seleramu. Kamu kan demennya yang blangsak gitu emang, tapi begitu diseriusin mumet maunya yang kebapakan."

Kemudian Lina tertawa keras, penuh ejekan, dan tetap menyebalkan. Untung aku sudah terlanjur sayang padanya, kalau tidak, waaah udahlah udah.

“Monyet. Emang gitu ya?"

“Ya iyalah, coba kamu inget baik-baik deretan lelaki di hidupmu, banyakan good atau bad boy? Atau mau aku bantu nyebutin?”

“GAK USAH!”

“Eh bentar deh Ra, dua hari lalu kan kamu curhat tuh kalau kamunya lagi merasa ngga nyaman dengan kepercaya dirianmu, nah coba deh jadikan masnya sarana untuk ngebantu kamu ngetes. Kamu masih punya cukup rasa percaya diri atau ngga?”

“Maksudnya?”

“Ajakin dia kenalan, minta nomor HPnya, sampe ngobrol seru sama dia. Kalau kamu bisa, yakin deh sebenernya kepercaya dirianmu tuh ga kenapa-napa.”

Setelah beberapa obrolan dengan tema lain, akhirnya saya menyudahi perbincangan saya dengan Lina melalui telepon. Kalau sudah begini, sebal rasanya punya sahabat terbaik yang tinggalnya di beda kota. Pengennya supaya kami bisa tinggal di kota yang sama aja. Huh.



***


Senin, 10 September 2018


            Di café yang sama, dia duduk di meja yang sama dan tetap tanpa teman. Saya jadi berpikir, dia ini sebenarnya memang seorang penyendiri atau jangan-jangan memang yang punya café. Di mejanya ada satu, dua, tiga, empat, lima, lah buseett 6 botol bir dingin. Rasa-rasanya minggu lalu juga sama, ada beberapa botol minuman itu di mejanya. Dianya memang gemar beli sebanyak itu atau emang owner café karenanya dia bebas ambil minum sebanyak apapun.

             Mata kami bertemu lagi, kali ini saya senyum, lebih lebar. Dia membalas senyuman, lebih lebar juga, dan terlihat barisan gigi rapinya. Sial, dia lucu. Kan sisi saya yang gampangan jatuh cinta ini jadi terancam kalau begini.

           Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu. Bir dingin di mejanya semakin bertambah, puntung rokok dalam asbak di mejanya juga makin menggunung. Dan dia masih saja sendiri, tidak ada teman yang kemudian menghampiri. Saya? Oh saya tentu saja datang dengan seorang teman. Ketika teman saya memesan minuman tambahan ke kasir, saya kemudian memberanikan diri menyapa lelaki ini.

                “Sendirian aja mas?”
                Pertanyaan saya ajukan ketika ia tepat mendongak dan menatap mata saya.

                “Eh, saya?”

                “Iya, masnya. Sendirian aja?”

                “Oh iya.”

                Masnya tersenyum. Saya mengumpat dalam hati. Kok bisa ada mas yang lucu begini tapi tingkatan lucunya pas, ngga terlalu lucu, ngga aneh juga. Saya gemas.

                “Mas yang punya café ini?”

                “Hah? Saya? Nggak lah bukan. Pengunjung aja di sini, tapi setia.”

                “Oh, kirain. Masnya emang suka sendirian atau ya emang lagi pengen menyendiri aja?”

                “Dua-duanya bisa. Dan ya emang ngga ada temen ngebir aja, jadi ya…..”

                Kemudian teman saya datang, kami mengakhiri obrolan kecil tadi dengan saling mengangguk.



***


Jumat, 14 September 2018


           Saya lagi lagi datang ke café itu. Pertama karena suasana cafénya enak, lagunya pas, penerangannya pas, dan ice red velvetnya enak, enak banget. Kedua dan yang utama, saya rindu lelaki itu.

          Jam menunjukkan pukul sembilan malam dan tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Jam 11 malam, masih belum juga tampak aroma dia akan datang. Jam 11 lebih 15 menit, saya sedikit kecewa. Kecewa pada harapan sendiri, kecewa pada hal yang tak jelas. Saya rindu, ingin melihatnya, melihat matanya, menikmati senyum ringannya, mengintip perlahan di balik pundak teman saya hanya untuk melihat ia menenggak bir dingin kesukaannya, melihat bibirnya menghisap rokok, melihat postur kurusnya, memandangi tato-tato di tubuhnya yang beberapa berusaha disembunyikannya di balik kaos, tapi dia tak ada, dia tidak datang. Atau kebetulan-kebetulan hanya terhenti di pertemuan akhir lalu? Ah sudahlah. Saya pulang. Saya menyesapi sakit hati teringan lagi. Sedikit sakitnya, tapi lumayan menyusahkan. 



***

Sabtu, 15 September 2018


                Saya yang tak mudah puas ini memutuskan untuk menghabiskan malam minggu di café itu lagi. Saya tak mau sebutkan namanya, saya mau simpan untuk diri saya sendiri. Malam ini di café sedang ada penampilan DJ dengan pilihan musik yang sangat nyaman di telinga, volume pas dan berhasil membuat tubuh relax. Saya memilih duduk di bagian dalam ruangan café. Menyiapkan laptop karena memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda di kantor tadi sore. Beberapa menit kemudian saya merasa dia ada di sini, tapi mungkin di bagian luar seperti biasa. Saya mencari-cari dan ketemu. Dia ada di sana, sendirian. YES!

                Lalu apa? Saya harus bagaimana? Ah ya sudahlah yang penting ada dia, saya sudah senang. Satu jam terlewat. Saya yang duduk di meja dekat kasir mendengar suara lembut lelaki yang memesan bir dingin, oh tentu saja saya langsung mengangkat kepala dan mencari arah suara dan YAP! Dia yang sedang memesan minuman. Saya tersenyum sendiri, senyum sembari memandang daftar laporan keuangan perusahaan manufaktur di BEI yang terpampang terang di layar laptop. Hahahahahahaha.

                Saya masih mendengar suara dia berbicang dengan bartender di café, sepertinya ia memutuskan duduk di bar. Wah wah wah, suka nih saya kalau begini, bahagia nih. Dan sedetik kemudian.

                “Hai mas.”

                “Hai mba.”

                “Sendirian lagi mas?”

                “iya, kayak biasanya. Hehehe.”

                “Daripada gitu, sini aja sih gabung sama meja saya.”

                “Heh?”

                Dia masih tampak ragu-ragu.

                “Udah sini aja daripada sendirian mulu. Yuk!”

                Dia bangkit dari kursinya, membawa botol minumannya, dan berpindah duduk di depan saya, semeja dengan saya. Saya? OOHH TENTU BERBUNGA-BUNGA DOOONG..

                “Saya Niara.”
                “Sandy.”

                Kami berbincang banyak hal. Terlalu banyak. Saya suka berbincang dengannya. Saya suka cara dia menjawab pertanyaan saya dengan jawaban ringan, saya suka cara dia menceritakan tato-tato di badannya, saya suka melihatnya mengalihkan pandangan ketika ditanya hal-hal khusus, saya suka melihatnya membetulkan kaosnya, saya suka melihat bahunya, saya suka melihat mata kecilnya, saya suka melihatnya memutar-mutar ponselnya ketika menjelaskan banyak hal. Saya suka awal perkenalan ini.

                “Nomor HP kamu dong.”

                Saya menyodorkan ponsel saya, dia menuliskan nomor HPnya, dan memencet tombol telepon. Senang, akhirnya kami saling bertukar nomor HP.  Waktu diusir telah tiba, pegawai café sudah mulai bergerak ke sana-sini merapikan meja dan beberapa lampu café sudah mulai dipadamkan. Kami berjalan bersama menuju parkiran.

                “Kamu naik apa, Mas?”

                “Tuh!”

                Dia menunjuk ke ujung area parkir café ke arah satu-satunya kendaraan di sana. Sepeda.

                “Serius?”
                Dia mengangguk dan tersenyum lagi.

                “Kosan kamu bukannya jauh ya dari sini, ngga apa gitu naik sepeda? Mana udah tengah malam gini, kan anginnya kenceng.”

                “Kan pake jaket. Ini supaya imbang aja. Masa ngebir ngerokok mulu. Biar imbang, olahraga deh, dan paling enak ya sepedaan ini.”

                “Mmmm oookkeeee deh sip. Yauda mas makasi ya, hati-hati loh ya!”

                “Yok. Kamu juga hati-hati. Dah.”

                “Dah.”

                Bener-bener antik ini laki, saya jadi makin senang.



***

Lega rasanya bisa memastikan bahwa rasa percaya diri saya tidak bermasalah, saya masih punya cukup nyali untuk mengajak lelaki berkenalan dan berbincang.



***

Senin, 17 September 2018

"Mau ke mana kamu?" 
"Kantor lah." 
"Kok naik sepeda? mobilmu kenapa?" 
"Ga kenapa-napa, Bu. Ini biar imbang aja, masa aku makan molor makan molor aja, olahraga dong biar imbang. Nah ini mantep kan olahraga sepedaan ke kantor."

Saya berangkat ke kantor, Ibu tetap melongo sambil berdoa mungkin ya, 
semoga anak perempuannya ini masih dalam keadaan waras.

***






#NulisKamisan #S4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank you for coming reader |read my older posts please | nhaz montana