09 Agustus 2019

Take It or Leave It




Dalam sebuah hubungan, harus ada kesepakatan antara pihak yang terlibat. Hubungan apapun. Hubungan kerja, hubungan bisnis, hubungan pertemanan, hubungan antar kekasih, hingga hubungan suami istri.

Termudah dalam urusan asmara adalah kesepakatan dalam menyebut jenis hubungannya.
Apakah sebatas teman?
Teman apa? Teman biasa? Teman tapi mesra? Teman nonton? Atau teman tidur?
Apakah berpacaran?
Apakah pacaran dijalani aja? Pacaran untuk serius? Atau bagaimana?
Apakah hubungan tanpa status?

--

Saya tidak percaya pada pertemanan antar lawan jenis bisa bertahan selamanya dengan istilah “sebatas teman”. Hubungan jenis itu pasti akan usai karena salah satu mengemukakan rasa dan pihak lainnya tidak bisa membalas atau usai karena keduanya saling sayang dan kemudian hubungan pertemanan berlanjut ke hubungan asmara.

Kemarin sore ia mengajak saya bertemu di café biasa. Pesanan saya tentu saja cheese fries dan ice matcha latte. Dia datang, pintu café terbuka olehnya diiringi gemerincing lonceng di atas pintu pertanda ada yang masuk atau keluar café. Saya menoleh ke arahnya, melambaikan tangan memanggilnya.

Ia menghampiri saya dengan langkahnya yang khas, wanginya yang selalu memabukkan, dan senyumnya yang menyebalkan; senyum simpul namun meluluhkan. Kami berbincang ini dan itu seperti biasa, ia memesan es kopi dan nasi salted egg, menyantapnya dengan lahap. Perbincangan kemudian menuju ke inti ajakannya bertemu kali ini.

“kamu menjauhiku ya?”

“iya.”

“kenapa? Saya punya salah?”

“ngga kok.”

“ya terus kenapa menjauh?”

“karena saya ngga bisa jadi teman kamu lagi.”

“kenapa harus ngga bisa temenan lagi sih?”

“ya saya maunya jadi kekasih kamu. Seperti yang dua minggu lalu saya bilang ke kamu, saya suka kamu, saya sayang kamu, saya mau kamu jadi kekasih saya. Tapi kamu ngga bisa dan lebih ingin berteman saja dengan saya. Saya tidak bisa dan tidak mau lagi berteman denganmu. Saya harus menjaga hati saya.”

Dia menghentikan kegiatannya. Menyimak saya dengan serius. Saya melihat rona marah pada wajahnya tapi saya tidak peduli. Sesekali dia harus menyimak dan menanggapi saya dengan serius.

“kamu sekeras itu ya?”

“bukan keras, saya hanya memilih yang jelas-jeas saja. Tidak ada kesepakatan dalam menjalani hubungan antara kita kan? Jadi ya sudah saja.”

Obrolan kami berlanjut ke arah ia yang masih merasa tidak biasa ketika perempuan mengutarakan perasaan. Ia menyayangkan hubungan kami yang harus usai namun ia masih belum siap menjalin hubungan asmara dengan saya atau yang lainnya.

“jika ingin berteman, saya yakin temanmu masih banyak selain saya. Jadi tanpa saya juga pasti tak ada masalah. Take it or leave it, Za.”

--

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank you for coming reader |read my older posts please | nhaz montana