23 April 2018

Karma


"Mbak yang dandanin kamu kemarin pulang jam berapa?"

"Jam 3 abis ashar gitu. Ga bisa lama-lama di sini buat ngobrol karena mbaknya harus ngasih ASI ke anaknya yang bayi."

"Loh, anaknya bukannya udah gede ya yang waktu itu pernah ketemu di kondangan Dwinda?"

"Itu anak pertama, kan pas di kondangan juga, mbaknya udah hamil gede."

"Oh iya ya."

"Ternyata bu, dari wajahku mbaknya ngira aku masih seumuran ama dia, umur 25-an, padahal kan udah 29. hauhahaaaa yeess." 

Mau berbangga diri karena meskipun udah usia 29 masih dikira 25-an gitu. 😎 

"Nah ya itu tahu kalau udah tua, udah 29, kenapa ngga ndang nikah? mbaknya aja masih muda udah punya anak 2. Ibu ini loh stres mikirin kamu ngga nikah-nikah."

Seketika senyum saya hilang. 
Tiba-tiba merasa capek dan terkuras.

---

"Jadi gitu ceritanya, lah kan kesel ya wong akunya lagi bahas apaan, ibu nyambungnya ke mana."

"Ibumu yah, nyuruh-nyuruh nikah kayak nyuruh beli es teh di warteg."

"Nah makanya. Lelah aku tuh. Udah males banget ngeresponnya kalau ditanya gitu terus."

Kemudian kita berdua bersamaan menghela nafas berat sekalipun sedang berbincang melalui telepon.

"Nhaz, kayaknya kamu mending daftar jadi partisipan Karma deh, nanya ke Kiyoshi ada apa gerangan di dirimu dan nasib percintaanmu."

".......HWAAAAAAAAAAAAAAA" 😫

Baiklah, keputusan terbaik saat itu rasanya hanya satu, menutup telepon dengan istighfar sebanyak-banyaknya.

---

cling
cling
cling




*inhale
*exhale
*inhale
*exhale


---






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

thank you for coming reader |read my older posts please | nhaz montana